Posted by: arifmulianasution | October 23, 2010

Marga Siregar Dari Sialagundi

TAROMBO MARGA SIREGAR

KETURUNAN 

 

OMPU RAJA IMBANG TUA

DARI

SIALAGUNDI
 TAPANULI SELATAN

Tarombo Marga Siregar Dari Sialagundi disusun untuk mengenang Natoras Parla-

                            

gutan:

 

Ir. Haji Hasan Basyarudin Nasution, gelar Sutan Borotan Pandapotan

 

dengan

 

Hajjah Dorom Harahap, gelar Namora Oloan

 

yang berdiam

 

di jalan Belitung No.15, Baranangsiang, Bogor

 

 

Jawa Barat.

 

Catatan Penyusun

 Hubungan kekerabatan atara marga Harahap dari Batuna Dua Jae, dengan marga Siregar dari Sialagundi, marga Harahap dari Pargarutan Gunung Manaon, dan marga Nasution dari Muara Botung, berawal dari Siti Ayat Harahap, gelar Ompu Raodana, adik kandung Dr Hamzah Harahap dari Batuna Dua Jae, yang menikah dengan Haji Abdul Majid Siregar, gelar Syekh Abdul Majid, untuk menjadi ina (ibu) anak-anak marga Siregar yang berdiam di Sialagundi. Dari Sialagundi mereka pindah ke Sitamiang di Padang Sidempuan lalu menetap disana. Putri sulung Syekh Abdul Majid dengan Ompu Raodana ialah Maimunah Si-regar, gelar Ompu ni Rusmini, lahir di Sialagundi tahun 1900.

Dari Sialagundi Maimunah Siregar (1900-1977), gelar Ompu ni Rusmini, lalu menikah dengan Bilalung Harahap (1884-1936), gelar Sutan Mulia untuk menjadi ina anak-anak marga Harahap yang berdiam di Pargarutan Gunung Manaon. Setelah Ompung Sutan Mulia ada-lah pensiunan School Opziener (Penilik Sekolah) Onderwijs van Angkola en Sipirok, masih dalam zaman penjajahan Hindia Belanda. Ia kembali ke Angkola dari Kotanopan di Mandailing lalu menetap di Padang Sidempuan dan berdiam di jalan Lubuk Raya no.2 Tanah Lapang. Oleh para cucunya Ompung Maimunah dipanggil Ompung Sidimpuan.

Adapun putri sulung Sutan Mulia dengan Ompu ni Rusmini dari Pargarutan Gunung Ma-naon ialah Dorom Harahap, lahir tanggal 19 September 1920 di Patisah Ilir, Medan. Dari Padang Sidempuan Dorom Harahap (1920-2001), gelar Namora Oloan, juga bernama Ompu ni Titik, lalu menikah dengan H. Ir. Hasan Basyarudin Nasution (1915-1983), gelar Sutan Borotan Pandapotan, untuk menjadi ina anak-anak marga Nasution berdiam di Muara Botung, Madina (Mandailing-Natal). Dalam lingkungan masyarakat kehutanan Bogor, Do-rom Harahap lebih dikenal dengan panggilan “Ibu Hasan”, sedangkan di rumah ia disapa anak-anak dengan panggilan “Umak”, dan oleh para cucu ia disebut “Ompung Bogor”. Setelah Ompung Sutan Borotan pensiun dari bekerja di kehutanan, ia memutuskan untuk menetap di Bogor dan berdiam di jalan Belitung no.15, Baranangsiang.

MARGA SIREGAR DARI SIALAGUNDI

SIPIROK

———————————————

Pendahuluan

Tarombo dalam masyarakat Batak berawal dari budaya lisan menyampaikan pesan kepada kahanggi dalam perjalanan generasi. Dengan semakin besarnya jumlah kahanggi, baik yang masih berdiam di Bona Bulu maupun yang telah berdiam di perantauan, budaya lisan harus berubah menjadi budaya tulis.

Memasuki budaya tulis, tarombo awalnya disuratkan di kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya dalam aksara Batak. Dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara sekitar abad ke-13, dan masuk ke Tanah Batak dalam Perang Paderi (1825-1833) yang mengajarkan tulisan Arab, maka aksara ini lalu digunakan untuk menuliskan tarombo. Dengan diperkenalkannya bahasa Melayu bertulisan Latin oleh pemerintah Hindia Belanda memasuki abad ke-20 di tanah-air, tarombo pun lalu ditulis dengan aksara Latin berbahasa Melayu/Indonesia.

Masyarakat Batak di Tapanuli menganut keturunan garis kebapaan atau patrilenial. Suhut (Batak), Keluarga Batih (Indonesia), Nuclear Family (Inggris), adalah masyarakat terkecil dalam masyarakat yang dipimpin Suhutsihabolonan. Yang disebut terakhir ini juga sekaligus jadi kepala adat, dan berhak  menurunkan nama marga kepada anak-anaknya me-nurut Adat Batak. Cara sebaliknya berlaku di Sumatera Barat, dimana ibulah si pemegang hak menurunkan marga kepada anak-anak, meski dilakukan oleh saudara laki-laki sejalan Adat Minang.

Dalam sistim kekeluargaan garis kebapaan, terdapat dua cara menyusun tarombo sesuatu marga untuk disebarkan kepada kahanggi, lalu disampaikan kepada generasi penerus, yak-ni: pohon keluarga (Indonesia), family tree (Inggris), stamboom (Belanda); dan Perjalanan Generasi (The Passage of Generation).

Pada cara pohon keluarga silsilah disusun dari atas ke bawah, dimulai dari leluhur pemer-satu sesuatu marga yang diketahui, dilanjutkan dengan keturunannya dari garis laki-laki sampai saat ini, disuratkan di atas kertas lebar, melahirkan bangun segitiga/piramida yang duduk pada alasnya. Ada juga yang menyuratkannya memancar, juga diatas kertas lebar, tetapi dalam lingkaran-lingkaran sepusat dengan leluhur pemersatu berada di tengah. Cara ini pun masih tergolong pohon keluarga. Selain dari dua cara ini, masih terdapat beberapa cara lain untuk menyusun tarombo dalam masyarakat Batak.

Pada cara Perjalanan Generasi, tarombo juga disusun dari atas kebawah, juga diawali   leluhur pemersatu sesuatu marga yang diketahui, tetapi diatas berlembar-lembar kertas kuarto, atau folio, sebagaimana tarombo marga Siregar dari Sialagundi ini. Pada cara ini, tiap ge-nerasi terpisah satu dari lainnya, sehingga nama-nama yang tertulis sama berasal dari kebiasaan orang Batak mengambil nama kakek (ompung), nama amantua (uak), dan lainnya, tidak menimbulkan kekeliruan terhadap nama-nama yang tersurat sama tercantum pada generasi sebelum atau sesudahnya. Selain dari itu, pada cara ini terdapat ruang luas untuk mencantumkan: tanggal, bulan, tahun lahir, alamat, pendidikan, pekerjaan, pengalaman hidup, dan lain sebagainya, yang akan bermanfaat bagi generasi penerus.

Kahanggi keturunan Ompu Raja Imbang Tua, marga Siregar dari Sialagundi tidak dira-gukan bertambah bilangannya dalam perjalanan waktu. Berdampingan dengan mereka ber-kembang pula Anakboru, dan Moranya. Dahulu ketiga kelompok keluarga ini masih ber-diam di Bona Bulu, tetapi kini sebagian dari mereka telah berada di tanah perantauan, tanah-air dan mancanegara.

Dapatkah kekerabatan Dalihan Na Tolu yang diajarkan leluhur silam ketika semuanya ma-sih bermukim di Bona Bulu dilanjutkan? Dalam zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini tentu saja dapat, asalkan ada Lembaga Hatobangon (Tetua Adat) marga Si-regar keturunan Ompu Raja Imbang Tua dari Sialagundi yang bersedia menjadi pemikir (think tank), menyusun rencana, dan melaksanakan pembangunan Sumber Daya Manusia dari Bona Bulu hingga perantauan yang sangat berharga ini. Mudah-mudahan ada!

g3-peta-tapanuli

g10-sipirok-dst

MARGA SIREGAR DARI SIALAGUNDI SIPIROK

———————————————————————

Pendahuluan

GENERASI PERTAMA

Sayur Matua Siregar, dengan istri boru…….dari….. . Ia ma na paganagana adat Batak di rura ni (di lembah) Sibualbuali, berdiam di Parau Sorat, keturunannya:

         1. Ompu Raja Imbang Tua.

GENERASI KEDUA

Ompu Raja Imbang Tua, marga Siregar dari Sialagundi, dengan istri…….boru ……. dari…. ..bermukim di…….., keturunannya:

         1. Mangaraja Mandugu.

GENERASI KETIGA

Mangara Mandugu Siregar, dengan istri….boru…….dari………, keturunannya:

         1. Sutan Namora.

         2. Abu Bakar

         3. Mara Sutan

GENERASI KEEMPAT

   1. Sutan Namora, dengan istri boru Harahap dari Sirumambe, lalu digantikan boru Si-tompul dari Simaninggir, keturunannya:

              1.Raja Aman

 

   2.Haji Abu Bakar Siregar, gelar Tuan Syekh Abdul Majid (18..-1936), dengan kedua is-

       trinya:

       a. Pertama di Singapura

           Rokiah, boru Melayu dari semenanjung Malaya. Ketika itu Abu Bakar Siregar tinggal di pulau Singapura menanti kesempatan berangkat ke Tanah Suci: Mekah dan Madinah, Saudi Arabia, untuk menunaikan ibadah Haji, sekaligus tinggal disana untuk belajar Agama Islam, masih di zaman penjajahan Hindia Belanda. Dalam masa penantian itu Abu Bakar Siregar menikah dengan Rokiah, keturunannya:

                  1. Fatimah (pr).

        b. Kedua di Indonesia

            Setelah kembali dari Tanah Suci, Haji Abu Bakar Siregar berusaha mengajak Rokiah ke Sialagundi, akan tetapi tidak disetujui keluarga. Setibanya di kampung Haji Abu Bakar lalu menikah dngan Siti Ayat Harahap, gelar Hajjah Aminah (18..-1950)  dari Batuna Dua Jae. Mereka awalnya tinggal di Sialagundi (Sipirok), kemudian  pin- dah ke Sitamiang di Padang  Sidempuan. Adapun Siti Ayat ialah iboto Dr. Ham zah Harahap dari Batuna Dua yang kemudian merantau ke Pematang Siantar untuk menetap di ibukota Tanah Simalungun itu. Keturunannya:

                       1. Maimunah (pr), lahir….1900 di Sialagundi.

                           2. Rehanan (pr), lahir…..di Sialagundi.

                       3.  Rosila (pr), lahir…..di Sialagundi.

                                    4.  Siti Anna (pr), lahir5 Mei 1914 di Sialagundi.

                                    5.  Siti Amba (pr), lahir…..di Sialagundi.

                       6.  Siti Jarada (pr), lahir…..di Sialagundi.

    3. Mara Sutan dengan istri boru Harahap Tunggal Huayan dari Huta Tonga,  ketu-        runannya:

               1. Bata Mulia

               2. Nurman

               3. Koddam

               4. Kotan

               5.

               6.

               7.

GENERASI KELIMA

   1. Cucu Sutan Namora

        Raja Aman, dengan istri boru ….dari…., bermukim di Palembang keturunannya:

                  1. Leli Utama

                  2. Titik

                  3. Torkis, gelar Sah Putera Sutan Namora.

                  4.

                  5.

 

   2. Cucu Haji Abu Bakar Siregar, gelar Tuan Syekh Abdul Majid.

      a. Di Singapura

           Fatimah Siregar, menikah dengan Muhammad orangl Melayu, dan berdiam di Singa-pura, keturunannya:

                1. Saodah (pr), lahir…di Singapura.

                2. Halijah (pr), lahir…di Singapura

                3. Sakwiyah (pr), lahir…di Singapura

                4. Maznah (pr), lahir…di Singapura

                5. Haji Noh bin Muhammad, lahir…di Singapura

                6. Zainab (pr), lahir…di Singapura

       b. Di Indonesia

                    1. Maimunah Siregar, gelar Ompu ni Rusmini (lahir 1900 – wafat hari Rabu 16 Febru-

                        ari 1977), menikah dengan Bilalung (1884-1936), gelar Sutan Mulia, marga Hara-

                        hap dari Pargarutan Gunung Manaon. Terakhir mereka tinggal di jalan Lubuk Raya

                        no.2/jalan Yogja no.2/ jalan Cut Njak Dhien no.2, Tanah Lapang, Padang Sidem-

            puan. Keturunannya:

               1. Dorom (pr), lahir 19 September 1920 di Medan.

               2. Soritaon, lahir 10 September 1922 di Pematang Siantar.

               3. Naogun (pr), lahir 9 Nopember 1924 di Pematang Siantar.

               4. Maspero, lahir 20 Februari 1927 di Bengkalis, Pulau Bengkalis.

               5. Khalijah (Khadijah, pr), lahir 23 Mei 1930 di Kotanopan.

               6. Gulbahar, lahir 13 Maret 1933 di Kotanopan.

               7. Gulbahri, lahir 28 Agustus 1934 di Padang Sidempuan.

         2. Rehanan Siregar, menikah dengan……, marga Harahap dari Simasom dan bermu-

             kim di Simasom. Katurunannya:

                1. Regen, lahir ……..di Simasom.

                2. Nurlela (pr), lahir ……..di Simasom.

                3. Gunung Mulia (Tagor), lahir ……..di Simasom.

                4. Lenggana (pr), lahir ……..di Simasom.

                5. Latifah (pr), lahir ……..di Simasom.

                6. Gading, lahir ……..di Simasom.

                7. Rahmat (pr), lahir ……..di Simasom.

                8. Berlian (pr), lahir ……..di Simasom.

                9. Delima (pr), lahir ……..di Simasom.

         3. Rosila Siregar, gelar……..th (19..-19..) menikah dengan Effendi, marga Harahap dari Bagas Go-

             dang Siharang Karang, pemilik “Toko Buku Harahap dan Penerbit”  di Semarang, Jawa Tengah

             Katurunannya:

                1. Nurcahaya (pr), lahir ……..di ………

                2. Agustina (pr), lahir ……..di ……….

                3. Rostina (pr), lahir……….di…………..

                4. Lumongga (pr), lahir ……..di ……….

                5. Utir (pr), lahir ……..di ………

                6. Muslima (pr), lahir ……..di ………

                7. Oloan (Jakarta), lahir ……..di ………

                8. Darajat (Semarang), lahir ……..di ……….

                9. Mustafa, lahir ……..di ………

              10. Amirusni (Amik, pr), lahir ……..di ………

              11. Pahlawansyah (Wansyah), lahir ……..di ………

         4. Siti Anna Siregar, gelar Ompu Nadia Komanechi (1914 -2002), menikah denganJohor, marga

             Harahap dari Pargarutan Gunung Manaon, bermukim di jalan Rawa 

              sari Barat I/12, Jakarta. 

              Katurunannya:

                  1. Farida, lahir ……..1947 di Padang Sidimpuan.

                  2. Sinta, lahir 9 April 1949 di Padang Sidimpuan.

                  3. Ingrad, lahir ……1950 di Padang Sidimpuan.

         5. Siti Amba Siregar, gelar……(19..-19..), menikah dengan Amir, marga Harahap   dari Pintu La-

             ngit, bermukim di……….. Katurunannya:

                1. Parlagutan, lahir ……..di Padang Sidimpuan.

                2. Purnama (pr), lahir ……..di Padang Sidimpuan.

                      3. …………(pr), lahir ……..di Padang Sidimpuan.

                4. Mahyar (pr), lahir ……..di Padang Sidimpuan.

                5. Sulaiman, lahir ……..di Padang Sidimpuan.

                6. Zubaidah (pr), lahir ……..di Padang Sidimpuan.

         6. Siti Jarada (pr), meninggal gadis.

 

    3. Cucu Mara Sutan

            1. Beta Mulia Siregar, dengan istri boru ….dari…., keturunannya:

                 1. Mara, gelar Mara Katib

                 2. Sabarudin Siregar, gelar Baginda Majid, dengan istri……., bermukim di Sialagundi.

                     Keturunannya:

                                      1.

                 3. Abdul Munir

                 4. Masria (pr)

                 5. Nurmina (pr)

                 6.

                 7.

                 8.

                 9.

               10.

               11.

               12.

 

             2. Nurman Siregar dengan istri boru ….dari…., keturunannya:

                 1. Abdul Majid

                 2. Husin

                 3. Bali

                 4. Mina (pr)

                 5.

                 6.

                 7.

                 8.

                 9.

 

GENERASI KEENAM

III-1-1. a. Di Singapura

               1. Saodah (Mak Sulung, disingkat Maklung) menikah dengan Tahir dari Singapura.

               2. Halijah menikah dengan Muhammad Noor dari Singapura, keturunannya:

                       1. Mariam, lahir…1943 di Singapura.

                       2. Abdul Wahab, lahir……di Singapura.

                       3. Aminah, lahir……di Singapura.

                       4. Ramilah, lahir……di Singapura.

                       5. Abdul Hamid, lahir……di Singapura.

                       6. Zainab, lahir……di Singapura.

                       7. Abdul Majid, lahir……di Singapura.

                       8. Sahat, lahir……di Singapura.

                       9. Nurida, lahir……di Singapura.

                     10. Rusman, lahir……di Singapura.

                     11. Rusli, lahir……di Singapura.

                     12. Ruslan, lahir……di Singapura.

                     13. Nuraini, lahir……di Singapura

                     14. Abubakar, lahir……di Singapura.

               3. Sakwiyah, menikah dengan Johar dari Singapura, keturunannya:

                      1. Abdul Karim, lahir……di Singapura.

                      2. Abdul Jabar, lahir……di Singapura.

                      3. Muhammad Isa, lahir……di Singapura.

                      4. Muhammad Jiwa, lahir……di Singapura.

               4. Maznah, menikah dengan Madon orang dari Singapura, keturunannya:

                      1. Abdul Latif, lahir……di Singapura.

                      2. Nur Latifah, lahir……..di Singapura.

                      3. Abdul Azis, lahir……di Singapura.

                      4. Abdul Gani, lahir……di Singapura.

                      5. Azizah, lahir……di Singapura.

                      6. Abdul Rahim, lahir……di Singapura.

                      7. Rahimah, lahir……di Singapura.

                      8. Rohani, lahir……di Singapura.

                      9. Abdul Razak, lahir……di Singapura.

              5. Haji Noh (Pak Bungsu) bin Muhammad, dengan istri Habsyah bermukim di Singapura.

                  Keturunannya:

                1. Muhammad, lahir……di Singapura.

                     2. Rosilah, lahir……di Singapura

                     3. Ishak, lahir……di Singapura.

                     4. Azmi, lahir……di Singapura.

                     5. Azman Nooh, lahir……di Singapura.

                     6. Azhar, lahir……di Singapura.

              6. Zainab, menikah dengan Ahad dari Singapura, keturunannya:

         b. Di Indonesia

         1. Hj. Dorom Harahap, gelar Namora Oloan, Ompu ni Titik (1920-2001), menikah de-ngan Ir. Hasan Basyarudin (1915-1983), gelar Sutan Borotan Pandapotan, marga Nasution dari Muara Botung, tinggal di Jalan Belitung no.15, Baranagsiang, Bogor. Keturunannya:

                  1. Rusmini (Mini), lahir 7 Juli 1942 di Sidikalang.

                  2. Nurhasni, lahir……1943 di Padang Sidempuan.

                  3. Nilawati (Butet), lahir 17 Mei 1945 di Tarutung.

                  4. Fatmasari (Taing), lahir 27 juli 1947 di Padang Sidempuan.

                  5. Pentariris Yunita (Penta), lahir 18 Juni 1949 di Padang Sidempuan.

                  6. Nurhayati (Adek), lahir 2 Mei 1951 di Tanjung Pinang.

                  7. Arif Mulia (Uncok), lahir 18 April 1959 di Pematang Siantar.

                  8. Tety Rahmasari (Tety), lahir 2 September 1961 di Pematang Siantar.

          2. Soritaon Harahap, gelar……..(1922-1997) dengan istri Roslina, marga Lubis boru Kuria Tambangan dari

              Mandailing. Setelah berpisah, digantikan Silvy boru keturunan Tionghoa dari Muntok, Pulau Bangka.

               Anak-anaknya:

                  1. Melvina, lahir……di……

                  2. Yenny, lahir……di…….

           3. Naogun Harahap (1924-2004), menikah dengan Haji Hasan, marga Siregar dari Situmba. Keturunannya:

                  1. Chairuddin

                  2. Ani, lahir……di……

                  3. Tini, lahir……di……

                  4. Deliana (pr), lahir……di……

                  5. Butet (pr), lahir……di……

                  6. Taing, lahir……di……

                  7. Uncok, lahir……di……

           4. Maspero Harahap, gelar……(1928-1994) dengan istri Delima, boru Siregar dari  Sihodahoda Padang Bolak. Keturunannya:

                 1. Lila (pr), lahir……di……

                 2. Edi Manaon, lahir……di……

                 3. Harris, lahir……di……

                 4. Asrul, lahir……di……

                 5. Adek, lahir……di……

                 6. Rizal, lahir……di……

           5. Khadijah Harahap (1930-1988), menikah dengan Ir. Hasan Basri, marga Daulae  dari Sibuhuan. Keturunannya:

                 1. Risanti (Yanti), lahir……di Jakarta.

                 2. Yasin (Oki), lahir……di Jakarta.

                 3. Safrina (Rina), lahir……di Jakarta.

           6. Gulbahar Harahap, gelar……(1933-1989) dengan istri Farida Hanum, boru Regar dari Sialagundi.

                Anak-anaknya:

                 1.

                 2.

           7. Gulbahri Harahap (1934-1963) adalah mahasiswa UGM Yogyakarta, meninggal di Bandung dan dikebumikan di Bogor.

    2 – 1. Regen Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri Maimunah, boru Lubis dari….. bermukim di Sitamiang Padang Sidempuan. Mantan polisi berpangkat Inspektur pada zaman PRRI. Keturunannya:

                 1. Tagor

           2. Nurlela Harahap, menikah dengan Abdul Rasyid, marga Siregar dari Sipirok  Ba-

               gas Lombang (Guru Kombet). Abdul Rasyid pernah menjadi guru sekolah di Huta  

               Padang, Sipirok.

                Keturunannya:

                 1. Khairani

                 2. Nilam Sari

                 3. Sontang

                 4.

                 5.

                 6.

                 7.

           3. Tagor Gunung Mulia Harahap, gelar…….(19..-19..) dengan istri Rosada, boru Regar yang di-

              besarkan di Tegal, Jawa Tengah, dan bermukim di Jakarta.

          4. Lenggana Harahap, menikah dengan…….dari Kalimantan.

          5. Latifah Harahap, menikah dengan ………., marga Siregar………..

          6. Gading Harahap, gelar…….(19..-19..) dengan istri …….., boru…..bermukim di Medan.

          7. Rahmat Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri Titik, boru Regar dari Sia-lagundi.

          8. Berlian Harahap, menikah dengan……, marga Siregar………..

          9. Delima Harahap, menikah dengan……., marga …..dari…….

 

   3 – 1. Nurcahaya Harahap, menikah dengan Hari, marga Siregar dari Pasirampolu. Ia adalah babere Mr. Amir Syarifuddin Harahap mantan Perdana Menteri R.I., dan Mr. Arifin Harahap mantan Menteri Keuangan R.I. Mereka bermukim di Jakarta. Keturunannya:

                    1.

        2. Agustina Harahap, menikah dengan Moelia, marga Siregar dari Sabungan, babere Ir. Tarip Harahap pegawai Departemen PU Jakarta. Mereka berdiam di Jakarta, keturunannya:

                    1.

        3.  Rostina Harahap, menikah dengan H. M Yusuf, marga Siregar dari……. Bermukim

             di Perumnas Klender, Jakarta. Keturunannya:

                   1. Abdul Roup, lahir……di……

                   2. Mira, lahir……di……

                   3. Maruli, lahir……di……

         4. Lumongga Harahap, menikah dengan Hasan Alfia, marga Siregar dari Pd. Bolak.

         5. Utir Harahap, menikah dengan Amir, marga Siregar dari Simaninggir, adik kandung Omar Abdalla, mantan Dirut Bank Bumi Daya Jakarta. Mereka bermukim di Jakarta. Keturunannya:

         6. Muslima Harahap, menikah dengan Harris, marga Nasution dari Padang Matinggi bermukim di Jakarta.

         7. Oloan Harahap, gelar…….(19..-19..) dengan istri Ayu, boru dari Jawa Tengah  bermukim di Jakarta.

         8. Darajat Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri Joice (Zubaidah), boru Manado  dibesarkan di Semarang, Jawa Tangah, bermukim di Semarang.

         9. Mustafa Harahap, gelar…….(19..-19..) dengan istri……, boru Nasution dari Padang Sidempuan bermukim di Jakarta.

       10. Amirusni Harahap, menikah dengan Ir. Ahmad, marga Hutagalung dari Sima-ngumban, Sipirok, bermukim di Jakarta.

       11. Prof. Dr. Pahlawansyah Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri….., boru dari Jawa Tengah.

   4 – 1. Dra. Farida Harahap, menikah dengan Arif Wibowo dari Semarang Jawa Tengah.

        2. Dra. Sitta Harahap, menikah Anwar Sani, marga Siagian dari Simaninggir Sipirok.

        3. Drg.Ingrad Harahap, menikah dengan Muhammad Siddik S.H. dari Banjarmasin,  Kalimantan Timur.

 5 – 1. Parlagutan Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri………., boru dari Cipanas  

           Periangan.

        2. Purnama Harahap, menikah dengan Pandapotan, marga Lubis dari …….. bermukim di Jakarta.

        3. Nurhajati Harahap, menikah dengan …….., marga Siregar dari Padang Bolak.

        4. Mahjar Harahap, menikah dengan ……., marga …………..dari …………..

        5. Sulaiman Harahap, gelar…….(19..-19..) dengan istri……., boru…….dari….

        6.  Zubaidah Harahap, menikah dengan ……., marga ………….dari………

 

GENERASI KETUJUH

IV-4.a. Di Singapura

           1. Saodah (Mak Sulung, disingkat Maklung)

           2. Putra ke-5 Halijah bersuamikan Muhammad Noor:

               Abdul Hamid, dengan istri Zaleha boru Singapura, bermukim di Block 708 # 03-193, Pasir Ris Dr. 10, Singapore 510708. Tel: 65843536 / 98218727.

               Keturunannya:

                            1. Nur Hamidah (Nomi pr), lahir…1981 di Singapura.

                            2. Nur Azizah (Nuzi,pr), lahir…1985 di Singapura.

                            3. Muhammad Soleh, lahir…1991 di Singapura.

           3. Sakwiyah dengan suami Johar dari Singapura.

           4. Maznah dengan suami Madon dari Singapura.

           5. Putra ke-3 Haji Noh (Pak Bungsu) bin Muhammad beristrikan Habsyah:

               Azman Nooh, dengan istri Sirikit Chandapohl dari Thailand, bermukim di 

               Block 143, Marsiling Road # 02-2118, Singapore 730143. Keturunannya: 

                           1. Puteri Azy lahir…..1987 di Bangkok

                           2. Ixiz Aritzman, lahir…..1992 di Bangkok.

                           3.     

           6.  Zainab dengan suami Ahad dari Singapura.

        b. Di Indonesia

        1. Hj. Ir Rusmini Sri Rahayu Nasution, gelar Namora Oloan menikah dengan Ir. H. M. Rusli, marga Harahap dari Hanopan, Sipirok,  berdiam di jalan Batu Pancawarna I/ 2A Pulomas, Jakarta. Keturunanya:

                       1.Arfilmiansyah Parlindungan (Ari), lahir 11 Juli 1974 di Jakarta.

                       2.Budiadiliansyah Pardomuan (Budi), lahir 30 Maret 1976 di Jakarta

                       3.Altinai Molunasari (Inai, pr), lahir 23 Juni 1978 di Jakarta.

                       4.Mulia Firmansyah (Mulia), lahir 2 Juli 1982 di Jakarta.

 

        2. Nurhasni meninggal usia 3 tahun.

 

        3. Hj. Nilawati Nasution S.H., menikah dengan H. Darwis, SH, marga Siregar dari Baringin Sipirok, bermukim di jalan Intan no. 20 Pulomas Jakarta. Keturunannya:

                       1 .Nur Hasanah Titik Darnila (Titik, pr), lahir 11 Maret 1974 di Jakarta.

                       2. Muhammad Qodri (Odi), lahir 4 Oktober 1975 di Jakarta.

 

        4. Fatmasari Nasution, menikah dengan Ir. Amrul, marga Hutasuhut dari Sipirok, bermukim di jalan Belitung no.15, Bogor. Keturunannya:

                       1.Adhalina Anggiasari (Anggi, pr), lahir 28 September 1982 di Jakarta.

 

        5. Hj. Ir. Pentariris Junita Nasution , menikah dengan Akinaga MPA, marga Sinaga dari Pakkat, Sibolga. Mendapat tugas dari Departemen Perdagangan bekerja di New York, Amerika Serikat. Setelah kembali berdiam di jalan Intan no.17 Pulomas Ja-karta. Keturunannya:

                       1.Indira Konora (Noya, pr), lahir 11 Maret 1980 di Jakarta.

                       2.Mira Kemalasari (Mira, pr), lahir 1 April 1985 di Jakarta.

                       3.Tamara Nur Amalia (Tara, pr), lahir 2 Oktober 1986 di Jakarta.

 

        6. Hj. Nurhayati Nasution, menikah dengan  H. Drs.Irfan, marga Lubis dari Habincaran, Mandailing, bermukim di jalan Wadas II/19 Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.Keturunannya:

                       1.Shameira Rizkia (Ira, pr), lahir 23 April 1987 di Sibolga.

                       2.Annisa Saskia (Ica, pr), lahir 4 Januari 1990 di Bogor.

 

        7. H. Ir.Muhammad Arif Mulia Nasution, dengan istri Rita boru Jawa dari Jakarta bermukim di jalan Permata 284/285 Blok D, Jakasempurna, Bekasi. Pendidikan: UGM Yogyakarta, lalu pindah ke STIPER dan meraih Sarjana Kehutanan. Keturunannya:

                        1. Lendy Noor Amina (Lendy, pr), lahir 17 April 2003 di Bekasi.

 

        8. Ir Tety Rahmasari Nasution, menikah dengan Ir.Akmal Gani MSc. dari Bogor. A-walnya berdiam di jalan Belitung no. 15, Bogor. Kemudian pindah ke jalan Wadas II/17 Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi. Keturunannya:

                       1.Mirza Akmarizal Gazali (Mirza), lahir 11 April 1993 di Jakarta.

                       2.Tatiyana Anindia Ramadhani (Tati, pr), lahir 7 Maret 1995 di Jakarta.

                       3.Kevin Abdulazis Gazali (Kevin), lahir 22 Juni 1999 di Jakarta.

 

 

GENERASI KEDELAPAN

(Akan dilanjutkan generasi penerus marga Siregar dari Sialagundi)

 

Catatan.

Tarombo, marga Siregar dari Sialagundi ini ialah kelanjutan dari penuturan yang biasa dilakukan orang tua di kampung kepada anak-anak yang menjelang dewasa, saat akan me-rantau untuk bersekolah atau mencari nafkah, atau ketika akan berumah tangga. Maksudnya agar mereka saling mengetahui, dan faham peran dan kedudukan masing-masing dalam perhelatan Adat Batak.

Menurut Adat Batak sebagaimana tertera dalam surat Tumbaga Holing, kekerabatan dalam masyarakat di Tapanuli terdiri dari: Kahanggi, Anakboru dan Mora yang menjadikan keke-rabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga). Dan yang disebut terakhir ialah apa yang di-sebut keluarga besar oleh masyarakat Batak, dan mengandung pengertian dibawah ini:

Kahanggi, adalah mereka yang datang dari satu marga, dalam hal ini marga Siregar dari Sialagundi, keturunan Ompu Raja Imbang Tua, dimanapun berada.

Anakboru, ialah berbagai marga yang mempersunting anak gadis keturunan Ompu Raja Imbang Tua dibawa berumah tangga ke berbagai kampung/luhat untuk menjadi ibu anak-anak mereka disana.

Mora, dinamakan juga hula-hula, ialah berbagai marga yang mendatangkan ibu kepada ke-turunan Ompu Raja Imbang Tua darimana pun berdatangan, guna meneruskan generasi.       

Dengan Dalihan Na Tolu, masyarakat Batak diatur kehidupannya dahulu, kini, dan di masa akan datang, guna mendatangkan bahagia kepada semua. Dalam tarombo juga terbaca  peran dan kewajiban dari anggotanya.

Adalah tugas Lembaga Hatobangon (Tetua Adat) marga Siregar keturunan Ompu Raja Im-bang Tua dari Sialagundi untuk melengkapi dan melanjutkan pembuatan tarombo ini.

Sumber Tulisan

     Tarombo ini disusun sejak dari tanggal 10 April 1999, didapat dari keterangan:  

             1. Hajjah Dorom Harahap (Ny.Ir. Hasan Basyarudin Nasution).

          2. Hajjah Ir.Rusmini S.R.Nasution

             3. Hajjah Nilawati Hasution, SH.

             4. Ir. Anwar Sani Siagian (Suami dra.Sitta, babere Ompung Siti Anna)

             5. Abdul Hamid (Anggota keluarga berasal dari Singapura).

             6. Azman Nooh (Anggota keluarga berasal dari Singapura).

             7. Sabarudin Siregar, gelar Baginda Majid (Naposo), yang mengirim bahan tarom-

                 bo lewat surat langsung dari Sialagundi pada tanggal 10 Desember 2003.

 

Kemudian disusun kedalam Perjalanan Generasi oleh:

    Hajjah Ir.Rusmini S.R.Nasution.

    Jalan Batu Pancawarna no.I/2A Pulomas

    Jakarta Timur. 13210. Tel: (021) 472-2243

    Indonesia.

 

———-Selesai——–

 


 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: